Latest News

Inilah 5 Pemulung yang Sukses jadi Orang Kaya

Jangan sekali-kali meremehkan seseorang hanya dari penampilannya. Apalagi bila ia seorang pemulung. Meski baju compang camping dengan wajah yang lusuh, kadang sambil menggembol karung atau tas plastik besar berisi sampah-sampah bekas yang tidak terpakai.

Anda akan kaget bila membaca dongeng para pemulung di bawah ini. Mereka ialah orang-orang yang dulunya dipandang sebelah mata. Terpinggirkan, terhina bahkan dianggap rendah dan remeh.

Namun, berkat kerja keras dan tekad yang kuat, kini para pejuang kehidupan yang dekat dengan sampah ini telah bermetamorfosis menjadi insan yang dihormati. Hasil keringatnya telah membuahkan hasil. Sinar matahari yang dulu dekat menyengat kulit telah berganti dengan pendingin ruangan dalam kendaraan beroda empat yang menjadi kendaraan mereka sehari-hari.

Saya hadirkan dongeng inspiratif mereka biar bisa menjadi materi motivasi bagi kita semua.

Pemulung yang Sukses jadi Orang Kaya

1. Suwaji


Namanya Suwaji, tapi orang dekat memanggilnya Mas Puji. Dia termasuk salah satu juragan sampah di area TPA (tempat pembuangan akhir) Bantar Gebang Bekasi.

Pria yang kini tinggal di kampung Ciketing Bantar Gebang Bekasi ini, telah berhasil menjadi pengusaha sampah dengan omzet 100 juta per bulan. Sangat berbeda jauh dengan penghasilannya 11 tahun silam.

Saat itu, hasil memulung hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bertahun-tahun Puji hanya bisa mengumpulkan Rp. 2500 untuk makan setiap minggu.

Sakit dan sangat menderita sekali, hampir-hampir aku putus asa.” Ucapnya lirih bila mengenang masa lalunya itu.

Semenjak pindah ke Bantar Gebang, bersama Sulastri istri yang dinikahinya, mereka berjuang mengais rejeki di gunungan sampah yang menurut sebagian orang menjijikan. Namun bagi mereka itu ialah sumber uang untuk biaya makan mereka sehari-hari.

Hasil penjualan sampah mereka kumpulkan sebagai modal untuk membeli barang-barang sejenis dari rekan sesama pemulung. Kini setelah 11 tahun, kehidupan Suwaji berubah drastis.

Saat ini, Suwaji bisa menggaji 18 karyawan dengan upah Rp.25.000 – Rp.50.000 per hari dan 100 juta per ahad untuk membeli barang.

2. Rifan Ardiansah


Siapa sangka pemulung yang satu ini ternyata merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Pemuda ini memang berprofesi ganda. Siang mahasiswa namun ketika malam, ia bermetamorfosis menjadi pemulung botol plastik bekas.

Menjadi pemulung terpaksa dilakoni Rifan, alasannya ketika itu modal untuk membangun urusan ekonomi rongsokan sangat besar. Rifan banyak berguru dan berguru dari orang-orang yang telah sukses di urusan ekonomi rongsokan menyerupai pemilik CV. Majestic Buana.

Pekerjaan yang dianggap hina itu, kini menjadi jembatan menuju kesuksesan. Kini Rifan menjadi seorang pengusaha muda di urusan ekonomi tambak ikan. CV. Rifan Guna Semesta ialah kendaraan bisnisnya.

Kurang lebih 1,5 hektar tanah aset yang dimilikinya. Ditambah 3,5 hektar lahan milik mitra kerjanya.

3. Mohammad Baedowy


Awalnya ia seorang pekerja kantoran yang setiap hari berdasi dan berpenampilan necis. Pada tahun 2000 ia mulai membidik sasaran bisnisnya pada sampah plastik. Ya, ia lah Mohammad Baedowy.

Seorang sarjana dan juga mantan pegawai bank ini tiba-tiba banting setir menjadi seorang ‘pemulung’. Keputusan yang dianggap ‘gila’ oleh beberapa sahabat dan keluarganya.

Baginya, sampah ialah harta karun. Usaha sampahnya dirintis dengan modal awal 50 juta yang di gunakan untuk membeli mesin dan menyewa lahan.

Saat awal tahun pertama, banyak kendala yang membuatnya hampir putus asa. Mulai dari ujian mental dan dilema teknis menyangkut mesin pengolah sampah miliknya yang sering ngadat.

Bahkan ia sempat pindah kontrakan gara-gara tidak bisa bayar uang sewa, sampai istri dan anak-anaknya ia titipkan pada orang tuanya.

Setelah 10 tahun berjuang, perjuangan Mohammad Baedowy mulai menemui titik terang. 80 mitra kerja dari Aceh sampai Papua berhasil ia rangkul dengan di bantu 60 karyawan yang menjadi bawahannya.

Pemilik CV. Majestic Buana Group ini, kini telah berhasil meraup omzet ratusan juta rupiah setiap bulan dari urusan ekonomi sampah plastik yang digelutinya.

4. John Pieter


Ide awal perjuangan sampahnya di mulai ketika melihat perbandingan harga gabah dengan limbah plastik. Gabah per kilo dihargai Rp.600 sedangkan limbah plastik Rp.1000 per kilo.

Sejak ketika itulah mahasiswa Institut Teknologi Bandung jurusan kimia ini mulai mengumpulkan sampah plastik yang banyak awut-awutan di belakang kawasan kos-nya.

Seorang pengusaha sejati harus memiliki keyakinan dan bisa melihat jauh ke depan.” Itulah motto John Pieter dalam menjalankan urusan ekonomi sampah nya ini.

John tahu betul bagaimana rasanya mengumpulkan sampah plastik satu per satu untuk dijual kepada pengepul.

Kini setelah lebih dari 20 tahun, lelaki asli Tanah Karo, Sumatera Utara ini telah memiliki banyak cabang perjuangan biji plastik yang tersebar di Makassar, Medan dan Banjarmasin.

Di bawah bendera Peka Group yang dipakai sebagai nama tubuh usahanya, kini perjuangan biji plastik John Pieter makin berkibar. Biji plastik olahannya menjadi primadona para pengusaha yang bergerak di bidang home industry.





5. I Wayan Dendra

Hidup serba kekurangan sudah menjadi hal biasa bagi I Wayan Dendra semenjak masih duduk di dingklik SMP. Pria yang kini tinggal di kota Sidoarjo Jawa Timur ini sempat pula mengenyam sebagai karyawan di sebuah perusahaan farmasi di Surabaya dengan posisi yang terbilang cukup lumayan.

Sifat kemandirian dan penuh inovasi membuat Wayan meninggalkan pekerjaannya dan memilih menjadi pemulung. Putra pertama dari almarhum I Nengah Sateng dan Ni Nyoman Teke ini jadinya bertekad lingkaran berkecimpung di dunia barang rongsokan.

Dengan pakaian seadanya, bapak lima anak ini tidak aib bila harus mengais sampah dan barang bekas. Wayan Dendra rutin mendatangi pabrik-pabrik dan sentra perbelanjaan hanya untuk mencari limbah dan barang-barang bekas yangg telah dibuang.

Namun kini Wayan Dendra telah bermetamorfosis menjadi pengusaha barang bekas yang sukses dengan kawasan perjuangan di lima kota di Jawa Timur dengan total karyawan lebih dari 50 orang.

Pria yang kini berusia 53 tahun ini selain sukses di urusan ekonomi barang rongsokan, ternyata juga sebagai anggota legislatif di Sidoarjo. Dengan jabatannya sebagai Ketua DPC Partai Hanura Sidoarjo masyarakat Sidoarjo lebih mengenalnya sebagai ‘wakil rakyat’ dari kaum pemulung di Sidoarjo.

Semoga dongeng hidup para pemulung sukses ini bisa menjadi pandangan gres buat kita semua.

Akhir kata, terima kasih dan wassalam. “SAY NO TO COPY PASTE”.