Latest News

Bai Fang Li 'Malaikat' Pengayuh Becak dari Negeri Cina

Ketika si miskin menyumbang dari kemiskinan nya, dialah malaikat dari surga yang di utus ke bumi semoga kita berguru arti memberi dan menyebarkan kepada sesama.

Sepenggal ungkapan yang mengajak kita untuk selalu berbagi. Melalui goresan pena ini, aku coba mengangkat cerita inspiratif dari kehidupan seorang tukang becak gemar memberi dari negeri China. Dia yaitu Bai Fang Li.

Meski sudah menutup mata pada tahun 2005 silam ketika usianya menginjak 93 tahun, namun ada ketertarikan tersendiri dalam benak aku untuk menulis kembali cerita hidup seorang pengayuh becak berjulukan Bai Fang Li.

Jujur, aku sangat terharu bahkan menitik kan air mata ketika membaca perjalanan  hidup dari tukang becak renta ini. Banyak pesan tersirat yang bisa kita petik dari cerita beliau.

Bai Fang Li 'Malaikat' Pengayuh Becak dari Negeri Cina

Sosok Bai Fang Li


Kemiskinan yaitu sobat hidup yang selalu setia menemani hari-hari bau tanah nya. Sehari-hari ia menarik becak untuk mengumpulkan uang yang akan ia sumbang kan pada yayasan anak yatim piatu di bersahabat tempat tinggalnya.

Usia yang senja tidak menyurutkan semangat kakek renta ini. Tubuhnya tergolong kecil untuk ukuran seorang penarik becak yang tinggal di tempat kumuh di Tianjin, China.

Sudah hampir 20 tahun dia hidup di atas sadel becak tuanya.Tak mengenal cuaca panas yang terik atau pun cuek nya salju.

Berangkat jam enam pagi, Bai Fang Li mulai mengayuh becak setiap hari menyusuri jalan-jalan di China. Kemudian kembali ke gubuk reot nya ketika hari menjelang malam sekitar pukul delapan.

Para tetangga mengenalnya sebagai pendatang tanpa sanak saudara. Banyak orang yang menyukai nya sebab dia tergolong orang yang suka menolong dan ringan tangan.

Senyum yang ramah selalu terpancar dari wajah keriput nya. Inilah yang membuat para pelanggan becaknya selalu ingin memakai jasanya. Menurut pengesahan banyak orang, dia tidak pernah mematok tarif. Berapa pun ongkos dari pelanggan, akan ia terima dengan ikhlas.

Kesederhanaan Seorang Bai Fang Li


Dia tinggal sendirian di sebuah gubuk reot yang hampir roboh di pemukiman kumuh kota Tianjin, China. Meski reot, gubuk itu milik seorang tetangga yang harus ia bayar ongkos sewa per harinya.

Perabotan dalam gubuk pun hanya seadanya. Sebuah tikar rombeng menjadi ganjal tidur untuk badan penat nya setelah seharian menggenjot pedal becak.

Menu makan sehari-hari hanya cukup 2 buah kudapan manis kismis dan air tawar untuk siang hari. Saat malam hari, dia hanya memakan sepotong daging atau sebutir telur.

Untuk urusan pakaian, tak ada koleksi baju yang bervariasi. Apa yang di pakai nya, itulah apa yang di miliki nya. Hiasan bajunya berasal dari kain tambalan yang rajin ia jahit ketika pakaian tersebut sobek atau berlubang.

Saat malam menjelang, lampu minyak yang tergantung di pojok ruangan yaitu satu-satunya sumber cahaya yang menerangi gubuk Bai Fang Li.

Tapi tahukah anda, di balik kemiskinan dan kesederhanaan hidupnya ini ternyata Bai Fang Li telah menyumbang sebanyak $ 53.000 atau setara dengan 500 juta rupiah untuk belum dewasa miskin dan terlantar yang ada di China.

Pendapatan mengayuh becaknya sehari hanya 20-30 yuan. Hasil tersebut selalu ia kumpulkan dan di simpan dengan hati-hati. Setiap hari uang yang telah ia kumpulkan lantas di donasi kan kepada belum dewasa miskin putus sekolah, semoga mereka bisa mengenyam pendidikan.

Lalu apa yang melatarbelakangi Bai Fang Li menyerahkan semua hasil jerih payah nya tersebut untuk orang yang belum tentu dia kenal?

Awal Kedermawanan Bai Fang Li


Di tahun 1986 ketika usianya menginjak 74 tahun, dia berencana untuk pensiun dari pekerjaan nya sebagai penarik becak untuk kembali ke desa asalnya.

Hatinya tersentuh ketika menyaksikan seorang anak berumur 6 tahun sedang memperlihatkan jasa mengangkut barang milik seorang ibu yang sedang berbelanja. Rona kegembiraan terpancar dari wajah anak tersebut ketika mendapatkan uang recehan sebagai upah jasanya.

Bai Fang Li makin tersayat hatinya ketika melihat anak tersebut mengais sampah untuk mencari makanan yang tersisa. Sepotong roti yang kotor ia bersihkan dengan baju lusuh nya, lalu ia makan dengan lahap.

Dengan perlahan ia hampiri anak tersebut, lalu membagi makanannya dengan bocah itu. Ia sedikit heran kenapa hasil upah mengangkut barang tadi tidak di belikan makanan oleh bocah tersebut.

uang ini untuk makan adik-adik saya..” jawab bocah itu.

orang tuamu di mana ?" tanya Bai Fang Li.

saya tidak tahu, orang bau tanah aku pemulung..sudah sebulan yang lalu mereka pergi dan tidak pulang lagi. Saya harus bekerja untuk menghidupi kedua adik kecil saya.” jawab bocah itu.

Bai Fang Li semakin duka ketika diantarkan  ke rumah bocah itu. Dia melihat dua anak perempuan berumur 5 tahun dan 4 tahun yang tidak terurus, kotor dan kurus. Kemudian ketiga anak itu ia serahkan ke yayasan yang menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin.

Kepada pengurus yayasan ia berjanji akan menyerahkan semua penghasilan nya untuk membantu belum dewasa miskin itu semoga mendapat makan dan pendidikan yang layak.

Tahun 1986 yaitu kali pertama ia menyumbangkan semua penghasilan membecak nya pada yayasan tersebut tanpa pamrih.

Akhir Perjalanan Bai Fang Li


Selama setahun Bai Fang Li tetap mengayuh becak tuanya tanpa memperdulikan perubahan cuaca. Salju yang membekukan badan atau pun sinar matahari yang aben badan renta nya.

Dalam kurun waktu 20 tahun mengayuh becak, jikalau di ukur dengan jarak maka hampir sama dengan 18 kali keliling bumi. Itulah bentuk usaha seorang Bai Fang Li demi membantu belum dewasa miskin yang putus sekolah.

Pada ketika usianya genap 91 tahun, tabungan terakhirnya yang berjumlah 500 yuan atau sekitar Rp 675.000 ia serahkan kepada Sekolah Menengah Tianjin YaoHua.

Bai Fang Li berkata dengan sendu, “Saya sudah tidak bisa mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini yaitu uang terakhir yang bisa aku sumbang kan.

Pesan terakhir tersebut membuat semua guru dan murid menangis terharu.

Bai Fang Li di diagnosis mengidap penyakit kanker paru-paru semenjak bulan Mei 2005. Hingga pada tanggal 23 September 2005, si pengayuh becak tersebut menutup usia.

Tidak ada harta atau wasiat yang ia tinggalkan. Hanya kepedulian dan kerelaan hati untuk menyebarkan dengan sesama yang bisa ia wariskan untuk kita. Ribuan masyarakat China turut mengantarkan mayit menuju peristirahatan terakhirnya.

Tidak apa-apa aku hidup menderita, yang penting belum dewasa miskin itu bisa makan dengan layak dan dapat bersekolah. Saya bahagia melaksanakan semua ini.

Kurang lebih sudah 300 anak miskin dan terlantar yang telah Bai Fang Li bantu melalui yayasan pendidikan yang di dirikan nya.

Saya hanya ingin mereka rajin belajar, bisa bekerja, menjadi orang yang berkhasiat dan berbakti pada negara.

Itulah kalimat sederhana yang tulus dari seorang berjulukan Bai Fang Li.

Semoga jiwamu damai di surga. “Sebuah cinta yang istimewa untuk orang yang luar biasa."

Kisah inspiratif tukang becak dari negeri China. Semoga bermanfaat.